3.1.14

Media Mainstream vs Media Anti-Mainstream

pilih yang mainstream atau anti-mainstream?
Saat ini, media mainstream a.k.a konvensional sedang menghadapi tantangan besar. Tantangan itu muncul dari media anti-mainstream a.k.a media sosial. Informasi lebih cepat tersebar melalui media sosial dengan bantuan internet. Masyarakat bisa langsung memperoleh informasi yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu dari internet. Daripada melalui koran, televisi, dan radio yang lebih membutuhkan waktu lama.

Kini, masyarakat lebih menginginkan informasi yang lebih cepat, dinamis, interaktif, beragam, banyak dan lebih mendetail daripada yang disediakan media mainstream. Semuanya bisa didapat melalui media sosial.

Terlebih sekarang itu jamannya sosial media, dikit-dikit berkicau di twitter, dikit-dikit update status di facebook, dikit-dikit share foto di instagram. Dan semua itu tanpa disadari udah jadi trend baru di masyarakat. Biar terkesan selalu update informasi why not? Kenyataannya memang banyak yang berpikir begitu.. Membangun eksistensi diri di sosial media itu terasa penting dan bermanfaat.

Sangat kontras dari yang terjadi beberapa tahun belakangan, saat informasi masih bersifat pasif. Pengusaha media hanya menyampaikan informasi dari satu arah saja. Banyak yang menyukainya, dulu. Sebelum semua teknologi berkembang pesat seperti saat ini. Sekarang konsumen tidak lagi menyukai cara tersebut.

-i read it on the internet-

Untuk itu, pengusaha media dewasa ini harus bisa menyesuaikan bisnis media mainstream mereka dengan media sosial. Hal ini bisa dilakukan dengan memodifikasi media mainstream tersebut menjadi lebih instan dengan kecepatan, namun tanpa merubah akurasi, lebih interaktif, lebih mudah dibagikan melalui media sosial, dan lebih variatif (memperbanyak foto dan warna).

Arus sosial media sudah sangat kuat, dan sangat sulit melawan arusnya. Yang bisa dilakukan hanyalah mengikuti arus yang mengalir, dengan menciptakan informasi yang lebih kreatif untuk konten yang berkualitas. Banyak yang memperkirakan media mainstream perlahan akan mati karena adanya media sosial, tapi banyak juga yang berharap kedua jenis media ini harus saling melengkapi untuk memberikan informasi kepada masyarakat.

Media mainstream dan anti-mainstream memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Disaat media anti-mainstream menang karena kecepatan, interaktif, dan beragam, media mainstream masih diunggulkan dari kebenaran informasi yang bisa dipertanggungjawabkan jurnalisnya. Sementara media sosial adalah jejaring sosial yang sistemnya seperti percakapan biasa, tidak ada jaminan informasi yang diberikan benar atau salah, kebenaran berita / informasinya-pun perlu dikonfirmasi kembali.
Dan masih banyak masyarakat yang lebih menyukai bacaan yang tertulis dikertas, daripada membacanya melalui media sosial yang menghadapkan mata langsung ke layar laptop / komputer / handphone / tablet. Apalagi kalau bacanya sambil nyedu teh buatan istri tercinta *eh* *bapak-bapak mode : on*

baca koran sambil nyedu teh pagi hari, syahdu~
Oleh karena itu, seharusnya media sosial harus dipakai untuk memperkuat media mainstream. Dan diharapkan adanya simbiosis mutualisme agar bisa saling mendukung, sehingga bisnis mainstream tidak mati.

---

Sementara itu, yok kita liat opini-opini lain di luar sana :

"Kadang berita di koran jadi terasa hambar karena lebih cepat disajikan lewat internet (misal detik.com, kompas.com, dll). Kini, baca koran hanya karena ingin melihat iklan sama lowongan pekerjaan. Akhir-akhir ini terasa rugi kalau beli koran, karena sudah dibaca di web."

"Selama masih ada pohon, koran atau buku akan tetap ada"

"Buat sebagaian warga yang dapat kemudahan akses internet, koran / majalah sudah jarang dibeli, padahal pendapatannya diatas rata-rata. Kalaupun harus beli koran, paling koran yang Rp 1000-an. Sementara di media (koran) sendiri masalah ini hampir menjadi topik rapat mingguan mereka. Dan kini mereka lebih menggenjot market di luar kota besar atau pinggiran kota."

"Ada keasikan tersendiri saat membaca koran dan tabloid. Jadi mau sampai kapanpun juga, Koran masih akan terus berkembang."

"Sepertinya lebih enak baca koran deh, beritanya lebih lengkap dan panjang. Beda kan kalau baca berita lewat internet, cuma sepotong dan lanjutannya nunggu beberapa jam lagi. Lagi pula akses internet masih mahal, dan tidak setiap rumah tangga memiliki internet. Beda dengan koran, dengan merogoh kocek Rp.1000 aja kita udah bisa baca koran dann dapet berita-berita yangg terjadi kemaren dann malamnya.
Belum lagi KORAN tuh bisa untuk sarana dokumentasi seperti di kliping. Jadi koran nggak bakalan pernah punah."

***

Nah, bagaimana pendapatmu?
Lebih pilih yang mainstream atau anti-mainstream?
Menurutmu media mainstream bakal panjang umur gak ya?

Yuk berbagi di kolom komentar! :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...